Adblock terdeteksi! Mohon ketersediaanya membaca pesan berikut.

Kita mendeteksi Anda menggunakan AdBlock atau sejenis software penghambat iklan lainnya yang membuat halaman ini terhambat untuk dimuat sepenuhnya.

Kita tidak menggunakan iklan banner, Flash, animasi, bersuara, atau popup. Kita tidak memasang jenis iklan yang mengganggu tersebut!

Kita hanya membutuhkan dana untuk mengoperasikan dan merawat website furahasekai ini, dan hampir semua pendapatan tersebut berasal dari periklanan online.

Jika Anda mendukung furahasekai, mohon tambahkan furahasekai.com ke daftar whitelist ad-blocker atau matikan software ad-blocker.


Terima kasih atas pengertiannya, dan terima kasih atas kunjungannya ^.^

Salam,
Tim Furahasekai

Pembelajaran Kooperatif Tipe Two Stay Two Stray

Model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray  (TS-TS) dikembangkan oleh Spencer Kagan. Metode ini bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia peserta didik. Metode pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray merupakan sistem pembelajaran kelompok dengan tujuan agar siswa dapat saling bekerjasama, bertanggung jawab, saling membantu memecahkan masalah dan saling mendorong untuk berprestasi. Metode ini juga melatih siswa untuk bersosialisasi dengan baik.

Lie (dalam Yusritawati, 2009:14) menyatakan, “Struktur Two Stay Two Stray yaitu memberi kelompok untuk membagikan hasil dan informasi dengan kelompok lain”. Adapun langkah-langkah pelaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray seperti yang diungkapkan, antara lain:

1. Guru membagi siswa dalam beberapa kelompok yang setiap kelompoknya terdiri dari empat siswa.

Kelompok yang dibentuk pun merupakan kelompok heterogen seperti pada pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray yang bertujuan untuk memberikan kesempatan pada siswa untuk saling membelajarkan (Peer Tutoring) dan saling mendukung.

2. Guru memberikan sub pokok bahasan pada tiap-tiap kelompok untuk dibahas bersama-sama dengan anggota kelompoknya masing-masing.

3. Siswa bekerjasama dalam kelompok beranggotakan empat orang.

Hal ini bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk dapat terlibat secara aktif dalam proses berpikir.

4. Setelah selesai, dua orang dari masing-masing kelompok meninggalkan kelompoknya untuk bertamu ke kelompok lain.

Struktur Two Stay Two Stray yang dimaksud tampak seperti pada gambar berikut ini:

Struktur Two Stay Two Stray 

5. Dua orang yang tinggal dalam kelompok bertugas membagikan hasil kerja dan informasi mereka ke tamu mereka.

6. Tamu mohon diri dan kembali ke kelompok mereka sendiri dan melaporkan temuan mereka dari kelompok lain.

7. Kelompok mencocokkan dan membahas hasil-hasil kerja mereka.

8. Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerja mereka.

Terdapat beberapa kendala yang biasanya selalu muncul dalam penerapan metode pembelajaran TS-TS ini berdasarkan pengalaman saya di lapangan, adalah sebagai berikut:

1. Alokasi waktu. Penerapan metode TS-TS membutuhkan banyak waktu dalam pelaksanaannya dibandingkan dengan menggunakan metode konvensional. Dimulai dari persiapan pembagian kelompok, diskusi dan presentasi siswa. Guru harus benar-benar bisa mengelola alokasi waktu pembelajaran dengan baik sehingga, pembelajaran tidak sia-sia dan materi ajar tersampaikan.

Solusi: Bila tidak memungkinkan semua kelompok untuk mempresentasikan hasil kerja mereka di depan kelas, cukup beberapa kelompok (2-3 kelompok) saja yang mempresentasikannya, atau tergantung sisa waktu yang tersedia. Hasil kerja sisa kelompok yang lain bisa dikumpulkan sebagai tugas dan mendapat giliran tampil di pertemuan selanjutnya.

2. Pelaksanaan pada saat bertamu. Guru harus benar-benar menerangkan kepada siswa mengenai maksud dan tujuan dari bertamu. Siswa terkadang masih kebingungan untuk saling bertukar informasi dengan kelompok lain. Karena tujuan dari berbagi informasi disini bukan untuk mencontek hasil jawaban dari kelompok lain.

Solusi: Setiap kelompok sebaiknya diberi materi yang berbeda. Sehingga benar-benar terjadi pertukaran informasi yang bukan sekedar mencontek jawaban dalam kegiatan diskusi. Hal ini juga berguna untuk mengatasi masalah alokasi waktu tadi, agar tujuan pembelajaran cepat tercapai oelh siswa.

3. Pembagian kelompok.  Pembagian kelompok sangat berpengaruh dalam suatu diskusi agar tidak tumpang tindih antara siswa kelompok tinggi dan siswa kelompok rendah. Kelompok siswa sebaiknya dibentuk secara heterogen, misalnya satu kelompok terdiri dari 1 siswa berkemampuan tinggi, 2 siswa berkemampuan sedang, dan 1 siswa berkemampuan rendah).

Dan hasilnya adalah metode pembelajaran ini bisa dijadikan sebagai alternatif pembelajaran matematika di sekolah. Terutama untuk bahasan yang terdiri dari beberapa sub pokok bahasan. Sehingga tujuan pembelajaran cepat tercapai, siswa menjadi lebih mengerti dan membuat suasana menyenangkan dalam pembelajaran matematika yang biasanya dianggap membosankan oleh siswa. TS-TS cocok untuk meningkatkan komunikasi dan hubungan antar siswa di kelas.



0 responses to “Pembelajaran Kooperatif Tipe Two Stay Two Stray”

  1. naya says:

    tolong di kirim referensi sm judul bukunya,,soalx lg butuh bnget ni,,

    • FuRaha says:

      Klo saya dapatnya dari skripsi kakak kelas saya:
      Yusritawati, I. (2009). Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Teknik Two Stay Two Stray terhadap Kemampuan Representasi Matematika Siswa SMP. Skripsi Jurusan Pendidikan Matematika FKIP UNPAS: tidak diterbitkan

      Mungkin lebih bagus lagi klo cari ref langsung dari buku yang relevan^-^

    • FuRaha says:

      Buku referensi untuk model2 pembelajaran kooperatif bisa dibaca di buku karangan Anata Lie.2002.Cooperative Learning: Mempraktikan cooperative learning di ruang-ruang kelas, terbitan Grasindo.

    • Kasturi says:

      Gan bsa di jelaskan ga yg struktur 5 kelompok yg gambar di atas ? kurang ngerti gan

      • FuRaha says:

        itu kan ada uraiannya:
        1. Guru membagi siswa dalam beberapa kelompok yang setiap kelompoknya terdiri dari empat siswa.

        Kelompok yang dibentuk pun merupakan kelompok heterogen seperti pada pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray yang bertujuan untuk memberikan kesempatan pada siswa untuk saling membelajarkan (Peer Tutoring) dan saling mendukung.

        2. Guru memberikan sub pokok bahasan pada tiap-tiap kelompok untuk dibahas bersama-sama dengan anggota kelompoknya masing-masing.

        3. Siswa bekerjasama dalam kelompok beranggotakan empat orang.

        Hal ini bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk dapat terlibat secara aktif dalam proses berpikir.

        4. Setelah selesai, dua orang dari masing-masing kelompok meninggalkan kelompoknya untuk bertamu ke kelompok lain.

  2. naya says:

    ka,,apa bs krm referensi lainnya

    • FuRaha says:

      Hmm, klo referensi ttg pembelajaran, ada beberapa:
      Djamarah, S.B dan A.Zain.2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta
      Sanjaya, W. 2006. Strategi Pembelajaran: Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Fajar Interpratama Offset
      Sudjana, H.D. 2000. Strategi Pembelajaran. Bandung: Falah Production
      Ginting, A. 2008. Esensi Praktis Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Humaniora

  3. dauzkd6ptr says:

    saya juga sedang membuat proposal dengan metode kooperatif tipe TSTS, tolong mas kirimin softkopynya. terima kasih. dauzkd6ptr@gmail.com

  4. ryan says:

    dmana kita bisa dapatin buku Anita Lie yg terbitan 2002 tentang cooparative learning?

  5. ryan says:

    yang punya softcopy ttg TSTS tolong kerimin dong k email sya. ryanjayadi10@gmail.com. trimakasih

Leave a Reply

%d bloggers like this: